Sunday, November 29, 2015

Walter Schloss - One of the Good Guys of Wall Street

[Pos ini ©2015 oleh Willy billythepip.blogspot.com. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.]

Walter Schloss


Walter J. Schloss adalah pendiri dari firma Walter J. Schloss and Associates pada 1955. Dibimbing langsung oleh Benjamin Graham, Schloss telah belajar menemukan saham-saham yang undervalue sebagai seorang analis di Graham-Newman Partnership sejak 1946. Setelah Graham pensiun pada 1955, barulah Schloss memutuskan untuk bermain saham sendirian. Edwin, putra Schloss, bergabung pada akhir 1960-an, dan pada 1973 resmi mengubah partnership Schloss menjadi Walter & Edwin Schloss Associates.

Tanpa menarik management fee sama sekali, tetapi meminta bagi hasil 25% dari cuan, Schloss memulai partnershipnya dengan modal awal $100,000,-, dan kelak dana kelolaan Schloss akan berhasil mencapai $350,000,000,-. Dari 1956 sampai 2002, Schloss berhasil mencetak CAGR 16% (sekitar 21% sebelum bagi hasil) versus 10% CAGR dari indeks S&P 500.

Walaupun perbedaan 6% terdengar remeh, renungkanlah sedikit apa yang telah dicapai oleh Schloss. Setelah 46 tahun, investor yang menanamkan uang $10,000,- di indeks S&P 500 akan mencetak cuan $900,000,-, sedangkan mereka yang mempercayakan uangnya kepada Schloss akan berhasil mencetak cuan $11,000,000,-!

Walter Schloss adalah salah satu investor favorit saya, karena dia membuat value investing terkesan sangat sederhana sekali:
  • Beliau tidak ambil pusing dengan data earnings
  • Beliau jarang bertemu dengan manajemen perusahaan
  • Beliau jarang berdiskusi dengan analis lainnya (artinya percaya kepada kemampuan sendiri)
  • Beliau tidak memelototi pergerakan saham seharian
  • Beliau tidak punya komputer
  • Beliau bahkan tidak pernah duduk di bangku kuliah (tetapi bisa lulus ujian CFA generasi pertama)
Ketika ditanya apa sebenarnya rangkuman teknik investasi Schloss, jawaban beliau bahkan singkat saja: 'saya dan Edwin membeli saham murah'.


Ditempa pada Masa Great Depression
Keluarga Walter Schloss mengalami langsung krismon dashyat Great Depression pada 1930-an, dan kedua orang tua Schloss kehilangan semua uang mereka di pasar modal. Walaupun jujur, Schloss mengakui bahwa bapak dan ibunya adalah investor yang payah dan hanya membeli saham karena ikut-ikutan. Pengalaman pahit ini selamanya akan tertera di benak Schloss bahwa untuk bertahan hidup di pasar modal, gol utamanya adalah tidak kehilangan uang.

Pada usia 18 tahun, masa depan Schloss terlihat suram. Keluarga beliau jatuh miskin, dan Schloss tidak punya uang untuk masuk kuliah. Satu-satunya pekerjaan yang didapatkan Schloss adalah menjadi office boy(!) pada perusahaan broker Carl M. Loeb & Co, dengan tugas utamanya menjadi kurir pengantar surat-surat antar perusahaan.

Walaupun tidak begitu paham serba-serbi transaksi saham yang dilakukan perusahaan, Schloss memberanikan diri untuk melamar di posisi analis pada tahun 1935. Tentu saja Schloss ditolak mentah-mentah, tetapi kepala divisi statistik perusahaan menyarankan Schloss untuk membaca buku Security Analysis dari Benjamin Graham dan David Dodd, dengan pesan 'baca buku itu Schloss, dan sekali kau paham semua di dalamnya, tidak ada lagi yang perlu kau baca'.

Berbekal buku tersebut, Schloss pun dengan semangat mengambil kursus finance dan accounting di New York Stock Exchange Institute of Finance pada 1938 - 1940, dimana Graham sendiri yang menjadi mentornya. Schloss ternyata cocok dengan Graham yang juga sama-sama jatuh miskin ketika Wall Street crash pada 1929, dan memiliki pendekatan yang konservatif dalam berinvestasi saham.

Takdir menyeret Amerika ke kancah perang dunia ke-2, dan Schloss muda pun ikut terjun ke medan perang 1941 - 1945. Walaupun demikian, Schloss tetap menjaga kontak dengan Benjamin Graham. Hal ini berbuah manis ketika Schloss kembali ke tanah air setelah perang dunia berakhir. Graham memiliki lowongan analis di perusahaan investasinya, dan Schloss pun akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan yang dia inginkan sebagai analis profesional pada 1946.


Net-Nets
Selama 9 tahun berikutnya, Schloss dengan setia terus mengikuti ajaran Graham dengan mencari saham-saham murah. Pasar modal Amerika saat itu masih terkesan suram, sehingga banyak saham yang dijual jauh di bawah net modal kerjanya, atau disebut Graham sebagai saham "net-nets". Schloss mengincar saham-saham yang paling tidak memberikan harga 2/3 dari net-nets, karena ketika harga berbalik kembali menuju nilai net-nets, maka di atas kertas Schloss akan berhasil mengunci cuan 50%.

Dalam perjalanan karir Schloss, dia bertemu dengan seorang anak muda dari Omaha, yang kelak menjadi rekan kerjanya di Graham partnership pada 1954. Nama anak muda itu adalah Warren Buffet, dan Schloss cocok dengan gaya Buffet yang jenaka dan jujur.

Buffet dan Schloss muda

Graham memutuskan untuk pensiun dan menutup perusahaan investasinya pada 1955. Schloss sempat kebingungan, tetapi Buffet meyakinkan Schloss bahwa saat ini dia sudah memiliki pengetahuan, keahlian, dan pengalaman yang cukup, jadi sebaiknya dia membuka perusahaan investasi sendiri saja. Dengan dorongan dari sahabatnya tersebut, Schloss pun resmi membuka firma Walter J. Schloss and Associates pada tahun itu juga.


Schloss sang Investor
Walaupun sudah menjadi fund manager, Schloss tetap setia mempertahankan gaya hidup sederhana. Dia hanya bekerja sendirian, tanpa sekretaris ataupun asisten. Kantor Schloss pun hanyalah satu ruangan kecil yang dia sewa dari kantor Tweedy, Brown & Co.

Schloss pun berusaha memiliki gaya hidup yang holistik, dimana dia menghindari jam kerja berkepanjangan para Wall Street profesional yang seringkali bergadang bermalam-malam. Justru sebaliknya, Schloss hanya mau bekerja dari jam 9am sampai 4:30pm, dan itu pun tanpa ditemani ticker tape untuk mengikuti gerakan saham harian. Sumber info Schloss secara umum hanyalah koran harian.

Karena Schloss tidak suka stress dan berusaha menghindarinya, Schloss menghindari berita tentang market dan ekonomi. Bagian yang itu sepertinya memang ada unsur kesengajaan dari media untuk membuat investor ketakutan! Lagipula Schloss mengakui bahwa market timing beliau pas-pasan, sehingga dia memilih untuk fokus saja pada analisis fundamental bottom up.

Cara kerja Schloss cukup sistematis: beliau mencari saham-saham yang sedang jeblok, lalu beliau akan membaca data statistik dan kinerja perusahaan dari laporan Value Line (yang dia pinjam dari kantor Tweedy, Brown & Co.!). Jika fundamental perusahaan terlihat menarik, Schloss akan membaca laporan keuangan perusahaan dengan lebih mendalam.

Sebagai seorang manajer investasi, Schloss jarang mengungkapkan isi portofolio beliau. Menurut beliau, investor seringkali terlalu fokus pada gerakan saham jangka pendek, sehingga beliau akan sangat tertekan ketika investor Schloss datang sambil menangis mempertanyakan nasib uang mereka. Selain itu, banyak orang yang tidak mau susah payah berpikir dan hanya mau gampangnya saja meniru saham pegangan Schloss, dan ini menyulitkan Schloss karena seringkali mereka mempermainkan harga saham incaran perusahaan.

Dengan kata lain, Schloss akan terus membeli saham ketika harganya sedang murah. Dalam hal ini, Schloss konsisten menunggu marjin aman yang melebar antara nilai wajar saham dan harga pasarannya. Semakin lebar marjinnya, semakin senang Schloss. Jika saham sudah terbeli, selanjutnya ya tinggal main sabar-sabaran menunggu harga saham kembali bangkit menuju nilai wajarnya seiring dengan berjalannya waktu, misalnya 4 - 5 tahun ke depan. Sudah seperti grosiran saja mengisi stok gudang mereka ketika sedang diskon besar-besaran dari supplier.

Salah satu trik Schloss adalah mencari tahu apakah manajemen juga memegang saham perusahaan mereka sendiri. Dengan membaca info perusahaan, Schloss ingin melihat apakah manajemennya jujur dan memiliki track record yang baik. Yang menarik disini, Schloss mengakui bahwa beliau jarang mengunjungi manajemen karena menurut beliau orang manajemen cenderung hanya mau bilang yang baik-baik saja ketika bertemu, dan cerita yang lebih objektif lebih nyata di angka keuangan perusahaan. Selain itu jika harus mengunjungi sekian banyak perusahaan setiap hari, Schloss yakin dia akan mati kecapekan dalam beberapa tahun (catatan penulis: walaupun bagian ini terdengar seperti lelucon, Peter Lynch mengungkapkan hal yang sama ketika dia memutuskan untuk pensiun dini dari dunia investasi. Lynch banyak kehilangan waktu bersama keluarga ketika dia mengelola dana Magellan, dan rambutnya pun semuanya memutih dini karena kelewat stress dan capek mengunjungi banyak sekali perusahaan di seluruh penjuru dunia. Sepertinya Schloss jauh lebih bijak dari yang kita pikirkan...)!

Yang paling penting disini bagi Schloss, adalah melakukan apa yang cocok bagi karakter anda, dan pastikan anda tetap bisa tidur di malam hari, karena mengelola uang orang itu adalah tanggung jawab yang berat.


Father and son joint forces
Edwin Schloss, seorang mahasiswa seni, bergabung dengan perusahaan ayahnya pada akhir 1960-an, dan mereka berdua tetap fokus mencari saham-saham yang sedang unvervalued. Pada 1973, perusahaan Schloss pun berganti nama menjadi Walter & Edwin Schloss Associates sebagai pengakuan Schloss bahwa putranya telah memiliki cukup keahlian di dunia investasi. Untuk menekan biaya pengeluaran, mereka berdua tidak menambah karyawan baru.

Edwin & Walter Schloss

Masuknya Edwin menambah semangat Walter, dan kedua Schloss bekerja sama mencari saham-saham murah dari net-nets maupun book value yang sedang terdiskon. Sayangnya, prinsip-prinsip Graham semakin sulit diterapkan pada dunia modern, dan ini meyakinkan Schloss bahwa dunia investasi sudah semakin cerdas, namun pada saat yang sama juga semakin berbahaya. Akhirnya pada tahun 2001, Edwin menyampaikan, "Ayah, saya sudah tidak bisa lagi menemukan saham murah!". Dan jawab Walter, "Berarti sudah waktunya kita pensiun, nak." Kelak Schloss akan menjelaskan bahwa "ketika mencari saham murah saja sudah membuat kelewat stress, berarti memang waktunya untuk berhenti mencari."


Bebas Memilih di Dunia Nilai
"Dalam berinvestasi," nasihat Schloss, "saran saya adalah mengerti kelebihan dan kelemahan anda, lalu rancanglah strategi sederhana agar anda bisa tidur nyenyak malamnya! Ingatlah bahwa saham mewakili kepemilikan bisnis, jadi pastikan anda mengerti keuangan perusahaan sebelum mengambil keputusan. Begitu anda sudah mengambil keputusan, beranilah untuk setia pada penilaian anda, dan jangan biarkan pasar mempengaruhi emosi anda. Lagian, investasi itu seharusnya fun and challenging, dan bukannya stressful and worrying."

"Saya selalu menyimpan 50 sampai 100 saham pada portofolio saya, karena saya gampang stress ketika ada saham pegangan saya yang tidak sesuai ekspektasi. Secara psikologis memang saya berbeda dengan Warren (Buffet). Banyak orang yang ingin menjadi the next Warren, tetapi orang suka lupa bahwa Warren bukan saja analis yang baik, tetapi dia juga pandai menilai orang dan bisnis. Saya sadar keterbatasan saya, jadi lebih baik saya berinvestasi dengan gaya yang paling nyaman bagi saya saya sendiri."

"Benjamin Graham telah berhasil menginspirasi sekelompok superinvestor, dan mereka jelas tidak hanya beruntung saja. Mereka telah membangun skill set dan mentalitas yang serupa untuk mengalahkan pasar dari tahun ke tahun. Di sini bagi saya investasi itu seperti seni, tapi kita lakukan selogis dan setidak emosional mungkin. Karena investor mudah terpengaruh sama pasar yang seringkali aneh-aneh, kita bisa menang dari pasar selama kitanya tetap rasional. Itulah pesan Graham, pasar itu ada untuk melayani kita, bukan membimbing kita!"

"Pertama-tama, kita harus tetap jujur. Tentu kita harus berusaha agar investor tidak kehilangan uang, dan juga jangan sampai kita mencetak uang dengan mengorbankan investor.... gol saya disini bukan saja memberikan value bagi para investor, tetapi juga melakukan apa yang benar bagi mereka yang percaya sama saya!"

"Saya tidak akan pernah lupa bahwa saya telah dipercayakan untuk mengelola uang orang, dan ini semakin memperkuat keinginan saya untuk tidak merugi... kalau bisnis itu bernilai satu dolar, dan saya bisa beli dengan harga 40 sen, maka saya percaya, sesuatu yang baik bisa terjadi pada diri saya."


Penutup
Walter Schloss adalah seorang superinvestor sejati, dan layak mendapatkan penghargaan lebih dari yang saat ini hanya seala kadarnya saja. Akan tetapi, dengan memilih untuk menghindari spotlight sepanjang karir investasinya, tentunya beliau dapat -dan saat ini pun masih- tidur dengan nyenyak. Rest in peace, Big Walt.

Rest in Peace, Big Walt (1916 - 2012)

Sumber:
Graham and Doddsville
The Value Investors

Factors Needed to Make Money in the Stock Market

  1. Price is the most important factor to use in relation to value
  2. Try to establish the value of the company. Remember that a share of stock represents a part of a business and is not just a piece of paper.
  3.  Use book value as a starting point to try and establish the value of the enterprise. Be sure that debt does not equal 100% of the equity. (Capital and surplus for the common stock).
  4. Have patience. Stocks don’t go up immediately.
  5. Don’t buy on tips or for a quick move. Let the professionals do that, if they can. Don’t sell on bad news.
  6. Don’t be afraid to be a loner but be sure that you are correct in your judgment. You can’t be 100% certain but try to look for the weaknesses in your thinking. Buy on a scale down and sell on a scale up.
  7. Have the courage of your convictions once you have made a decision.
  8. Have a philosophy of investment and try to follow it. The above is a way that I’ve found successful.
  9. Don’t be in too much of a hurry to sll. If the stock reaches a price that you think is a fair one, then you can sell but often because a stock goes up say 50%, people say sell it and button up your profit. Before selling try to reevaluate the company again and see where the stock sells in relation to its book value. Be aware of the level of the stock market. Are yields low and P-E rations high. If the stock market historically high. Are people very optimistic etc?
  10. When buying a stock, I find it helpful to buy near the low of the past few years. A stock may go as high as 125 and then decline to 60 and you think it attractive. 3 years before the stock sold at 20 which shows that there is some vulnerability in it.
  11. Try to buy assets at a discount than to buy earnings. Earning can change dramatically in a short time. Usually assets change slowly. One has to know much more about a company if one buys earnings.
  12. Listen to suggestions from people you respect. This doesn’t mean you have to accept them. Remember it’s your money and generally it is harder to keep money than to make it. Once you lose a lot of money, it is hard to make it back.
  13. Try not to let your emotions affect your judgment. Fear and greed are probably the worst emotions to have in connection with the purchase and sale of stocks.
  14. Remember the work compounding. For example, if you can make 12% a year and reinvest the money back, you will double your money in 6 yrs, taxes excluded. Remember the rule of 72. Your rate of return into 72 will tell you the number of years to double your money.
  15. Prefer stock over bonds. Bonds will limit your gains and inflation will reduce your purchasing power.
  16. Be careful of leverage. It can go against you.
- See more at: http://www.stockopedia.com/content/walter-schloss-16-golden-rules-for-making-money-in-the-stock-market-63815/#sthash.oX1wnMFS.dpuf

6 comments:

  1. Big Thanks for your great Blog and artickel Mr.Willy, and Big Thanks to Mr. Walter Schloss for your wisely advise - Yoan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Big Thanks juga bagi Yoan. Sukses juga dalam perjalanan kita masing-masing di perantauan sebagai anak didik Benjamin Graham pada masa sekarang. Jabat erat - Willy

      Delete
  2. Menemukan blog anda, membaca dan belajar bagi newbie seperti saya, ibarat menemukan harta karun di depan pintu rumah..thx untuk blog hebat ini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Bung kemas. Jabat erat - Willy.

      Delete
  3. kerja hebat buat Bung Willy, semoga diberkahi ilmunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih juga Bung Muhammad, anda juga semoga diberkahi juga investasinya

      Delete